Teknik Fotografi Landscape Untuk Hasilkan Foto Yang Memukau

Teknik Fotografi Landscape

Salah satu aliran fotografi adalah landscape, atau lansekap. Jenis fotografi yang satu ini menjadikan alam sebagai objek utama. Berbeda dengan aliran fotografi lain, landscape memiliki tantangan tersendiri, dan membutuhkan kepekaan fotografer itu sendiri.

Seorang fotografer profesional kelas dunia, Ansel Adams, pernah mengatakan bahwa:

Fotografi landscape adalah tes maha tinggi bagi seorang fotografer. Dan seringnya, fotografi landscape juga menjadi kekecewaan yang besar bagi kebanyakan fotografer”.

Mengapa dianggap tes tinggi yang mengecewakan?

Karena untuk bisa menciptakan sebuah karya fotografi alam yang indah, membutuhkan jam terbang, pengalaman, dan teknik yang tinggi. Untuk mencapainya, pastinya harus mengarungi lautan kekecewaan akibat foto yang biasa-biasa saja.

Teknik Dasar Fotografi Landscape

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengasah kemampuan fotografi landscape. Jika ditekuni, fotografi lansekap bisa dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.

Berikut adalah tips dan trik seputar teknik memotret panorama alam:

  1. Komposisi

Semua aliran fotografi pastinya membutuhkan komposisi sebagai aturan paling mendasar. Nah, untuk fotografi landscape, komposisi rule of third adalah yang paling mudah. Komposisi ini membagi gambar dengan perbandingan dua per tiga, sesuai namanya.

Komposisi rule of third, tidak otomatis membuat hasil foto menjadi gemilang. Tetap dibutuhkan naluri dan insting yang tajam untuk menangkap momen. Untuk sederhananya, posisikan objek utama pada 2/3 frame foto.

  1. Objek

Fotografi landscape biasanya memiliki langit dan daratan (atau permukaan air) sebagai elemen utama. Yang memisahkan keduanya adalah garis horison. Fotografer harus memiliki sikap untuk menentukan mana objek utama yang akan dijepret. Apakah langit, atau bumi (atau permukaan air).

Setelah dipilih mana yang lebih baik, tambahkan satu elemen lagi sebagai objek tambahan. Misalnya, pohon, batu, benda, dan lain sebagainya.

Objek tambahan tersebut sifatnya menambah keindahan foto semata. Objek bergerak, seringkali menjadi pemanis alami untuk fotografi landscape.

Titik fokus yang tepat juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Kebanyakan foto landscape memiliki ruang tajam yang luas. Karena memang tujuannya adalah menangkap alam seluas mungkin, dengan ‘mata’ kamera yang menyempitkan dunia.

Titik focus disebut juga dengan Focal of Interest atau focal point. Berbeda dengan Point of Interest, Focal Point adalah teknik untuk membagi ruang tajam ke suatu bagian, untuk melahirkan efek dramatis dalam fotografi landscape.

Untuk menambah keindahan, tak ada salahnya untuk membuat foreground. Contoh sederhana tentang perpaduan komposisi, Focal Point, dan foreground adalah misalkan Anda memotret matahari terbenam dari tepi pantai. Jika semburat awan begitu emosional, maka sudah pasti komposisi langit lebih mendominasi frame.

Gunakan bunga rumput sebagai foreground, dengan titik fokus kepada matahari. Sehingga bunga rumput akan menjadi kabur atau blur. Hasilnya akan sangat dramatis. Atau, atur Focal Point pada deretan bebatuan di tepi pantai, guna membuat latar sunset menjadi blur.

  1. Maksimalkan Tripod

Fotografi menuntut kesabaran tinggi. Saat itulah kegunaan tripod bisa membantu menciptakan foto yang dramatis. Sebagai contoh, pemotretan tengah malam untuk menangkap milky way di langit utara.

Untuk memotret langit malam, supaya cahaya bintang bisa tertangkap kamera, maka harus menggunakan angka shutter speed yang sangat rendah.

Jika tidak menggunakan tripod, maka getaran sedikit saja pasti akan membuyarkan hasil fotonya.

  1. Gunakan Aksesori Tambahan

Dalam fotografi lanscape, aksesori yang penting untuk dimiliki adalah ND filter dan Polarizer. Aksesori ini akan berguna ketika sedang memotret langit.

Polarizer bisa membantu membuat cahaya jatuh lebih merata di permukaan objek. Sementara ND filter bertugas untuk memecah exposure cahaya.

Selain itu, memotret air terjun, aliran sungai yang deras, dan semacamnya juga akan lebih dramatis menggunakan ND filter. Sebab, filter tersebut akan membuat gerakkan air terkesan lambat, dan hasilnya lebih lembut.

Baca Juga : Cara Mengurangi Bekas Jerawat Secara Alami

Ketika filter tidak berfungsi maksimal, jangan putus asa dulu. Gunakan saja fitur HDR. Kamera modern biasanya sudah dilengkapi fitur ini. Foto HDR mengombinasikan beberapa foto dengan tingkat exposure cahaya yang berbeda. Ketika digabungkan, akan tercipta foto dengan kontras yang sangat indah.

  1. Waktu Memotret

Dalam dunia fotografi landscape ada istilah golden hour dan juga blue hour. Hal ini mengacu pada jam-jam terbaik untuk memotret pemandangan alam. Golden hour adalah waktu saat matahari sedang terbit atau tenggelam. Semburat cahaya matahari akan berwarna keemasan di langit.

Sementara blue hour adalah saat sebelum matahari terbit atau sesudah tenggelam. Kondisi pada jam tersebut menampilkan langit malam yang mulai pecah dengan spektrum warna cahaya matahari.

Spektrum tersebut biasanya menciptakan ilusi cahaya berwarna biru.

  1. Eksplorasi

Banyak hal bisa diselami dalam jagat fotografi landscape. Mulai dari objek, hingga skill fotografer itu sendiri. Butuh waktu untuk menguasai teknik fotografi landscape. Biasakan untuk menggunakan pengaturan yang berbeda setiap kali memotret.

Misalnya, saat sebuah sesi foto sunset, mainkanlah pengaturan white balance yang berbeda. Jangan kuatir hasilnya berantakan, karena memang itulah tujuan eksplorasi, untuk merangsang kepekaan dan insting fotografi.

Bandingkan juga hasil foto dengan shutter speed dan bukaan diafragma yang berbeda. Karena, berbeda preset pasti hasil fotonya pun berbeda. Pada akhirnya, kebiasaan gonta-ganti pengaturan itu akan menjadi ‘file’ dalam skill fotografer. Dia akan tahu harus menggunakan setting yang mana untuk kondisi tertentu.

Fotografi landscape boleh jadi menjadi favorit banyak fotografer. Sebab, aliran ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi objek dan kemampuan mereka sejauh mungkin. Jika hasil foto alam Anda belum menarik, mungkin karena eksplorasi Anda pun masih jalan di tempat. Solusinya? Tetaplah memotret.