Deretan Kontroversi yang Pernah Terjadi Di Liga Indonesia

Liga Indonesia

Bagi Indonesia, sepak bola merupakan satu dari sekian banyak cabang olahraga yang paling banyak suporternya. Meskipun banyak dicintai, nyatanya ada banyak kontroversi yang mengikuti Liga Indonesia. Kontroversi tersebut seakan menjadi noda hitam di kertas putih bersih prestasi yang ditorehkan oleh klub sepak bola tanah air.

Bahkan citra sepak bola tanah air tidak mendapatkan perhatian yang terlalu tinggi terutama dari dunia Internasional. Karena berdasarkan sejarah, Indonesia hanya menjuarai SEA Games pada tahun 1987 dan 1991.

Prestasi yang coba diraih saat ini belum mampu menunjukkan Indonesia mampu bersaing dengan klub sepak bola internasional.

Kasus Paling Kontroversi dan Menghebohkan Di Liga Indonesia

Kebanyakan orang mungkin tidak tahu jika kasus-kasus kontroversi berikut ini pernah terjadi di  Liga Indonesia. Berikut ini kasus yang paling sering dibicarakan karena penuh kontroversi di sepak bola Indonesia:

1. Mafia Wasit (1998)

Pernyataan mengejutkan yang disebutkan oleh Manajer Persikab Kab.Bandung membuat Azwar Anas, Ketua Umum PSSI memutuskan untuk membentuk tim khusus yang bertugas untuk menemukan fakta terkait mafia wasit.

Setelah dilakukan banyak pencarian, ditemukan fakta jika  Jafar Umar, Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI terlibat dalam settingan hasil pertandingan. Untuk kesalahannya tersebut, Jafar dihukum dengan hukuman yang sangat berat, seumur hidup tidak diizinkan untuk terlibat dalam Liga Indonesia.

Selain Jafar Umar, setidaknya ada 40 wasit yang turut ditetapkan sebagai terdakwa yang berkaitan tentang match fixing.

2. Gol Bunuh Diri (1998)

Ajang Piala AFF yang terjadi pada tahun 1998 mau tidak mau akan selalu mengingatkan kita tentang gol bunuh diri yang dilakukan oleh Mursyid Effendi ke gawang Thailand. Akibat gol bunuh dirinya, Mursyid memperoleh hukuman dari FIFA yakni dilarang untuk berpartisipasi dalam Sepak Bola Internasional.

Padahal Mursyid Effendi sedang berada dalam karier puncaknya di usia yang ke 26 tahun. Selain Mursyid, FIFA bahkan memberikan hukuman denda pada Indonesia dengan jumlah yang cukup besar $40.000.

Karena kasus ini pula, akhirnya Azwar Anas memutuskan untuk lengser dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI.

3. Surat Kaleng (2010)

Masih dalam ajang Piala AFF, kontroversi ini terjadi pada tahun 2010 ketika Indonesia kalah melawan Malaysia. Kontroversi ini muncul setelah Eli Cohen melakukan pengaduan melalui surat elektronik yang secara langsung ditujukkan pada Presiden SBY.

Dalam email ajuannya, Eli Cohen mengatakan jika ada skandal suap yang terjadi dibalik kekalahan Indonesia atas Malaysia. Skandal ini melipatkan beberapa petinggi PSSI dan juga bandar judi sepak bola di Malaysia.

Baca Juga : Sistem Permainan yang Berlaku di Agen Poker Online

Skandal semakin memanas ketika masa meminta Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI untuk lengser dari jabatannya.

Namun, karena masih mendapatkan banyak dukungan suara dari anggota PSSI, Nurdin Halid masih bisa bertahan. Ujung-ujungnya karena kericuhan yang terus terjadi di ajang pemilihan Ketua Umum PSSI yang baru membuat FIFA memutuskan untuk mencoret daftar kandidat yang ada.

4. Dualisme Kompetisi

Di masa kepengurusan Djohar Arifin, sistem kompetisi dirombak secara ekstrem yang kemudian menimbulkan pro dan kontra. Kepengurusan PSSI menjadi tidak menentu karena ada dua kubu yang saling bersaing.

Mereka yang masih setia dengan ISL(sistem kompetisi rancangan Nurdin Halid) tetap setia, namun yang mendukung IPL (sistem rancangan Djohar Arifin) pun cukup banyak. Hal ini menimbulkan dualism kompetisi yang mengakibatkan perpecahan pada klub sepak bola.

Akibatnya, banyak klub sepak bola yang ikut dalam ajang kompetisi yang berbeda dengan nama yang sama. Meskipun kisruh dualism kompetisi berhasil diselesaikan pada 2013 lalu, hawa-hawa panas masih tetap terasa hingga kini.